Rabu, 25 Juli 2012

Materi Algoritma dan Pemprograman


STRUKTUR ALGORITMA

A.    Tujuan

Pada bab ini akan dibahas mengenai struktur algoritma dan penerapannya dalam bahasa pemrograman pascal. Struktur algoritma pada dasarnya terdiri dari tiga komponen utama yaitu sekuensial, percabangan, dan perulangan. Pembahasan mengenai struktur algoritma akan disertai dengan analisa kasus-kasus.

Tujuan yang ingin dicapai setelah pambahasan pada bab ini, pembaca diharapkan:
1.      Memiliki pengetahuan dasar tentang struktur algoritma
2.      Memahami stuktur algoritma skuensial.
3.      Memahami struktut algoritma seleksi
4.      Memahami struktur algoritma perulangan.
5.      Dapat menganalisa kasus-kasus sekuensial,seleksi, dan perulangan serta membuat algoritma dan program untuk kasus-kasus tersebut.


B.     Pendahuluan

Algoritma, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya merupakan kumpulan langkah-langkah logis untuk menyelesaikan suatu masalah. langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah ini pada dasarnya terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu runtutan (sekuensial), pemilihan (selection), dan perulangan (looping).
Ketiga komponen ini sangat penting untuk dipahami karena ketiga komponen ini yang menjadi dasar dari suatu algoritma. Dengan ketig komponen ini maka dapat disusun sebuah agoritma yang lebih fleksibel, ringkas, dan tepat untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terlihat rumit.
Runtutan merupakan perintah yang bersifat urut dan dilaksanakan sesuai dengan urutan penulisan. Perulangan merupakan perintah untuk melakukan sesuatu dengan cara diulang-ulang, sedangkan pemilihan merupakan perintah untuk melakukan sesuatu berdasarkan kondisi yang terjadi (sesuai). Katiga komponen ini akan dibahas secara detil pada bagian-bagian tesendiri.

C.    Runtutan/Sekuensial

Runtutan/sekuensial adalah sekumpulan pernyataan-pernyataan yang dikerjakan secara berurutan. Yang dimaksud dengan berurutan adalah sesuai dengan urutan penulisannya. Sebuah instruksi baru akan dijalankan ketika intsruksi sebelumnya telah selesai dilaksanakan.
Sebagai contoh, terdapat tiga buah gelas, gelas pertama (A) berisi air. Gelas kedua (B) berisi minyak, dan gelas ketiga (C) adalah gelas kosong. Sebuah permasalahan yang ingin delesaikan adalah bagimana memindah air yang berada digelas A dipindah ke gelas B yang semula berisi minyak. Demikian juga untuk gelas B yang berisi minyak akan dipindah ke gelas A yang semula berisi air.

Permasalahan diatas dapat diselesaikan dengan algoritma sebagai berikut:
1.      Pindahkan isi gelas A ke Gelas C yang kosong dengan demikian delas A akan menjadi kosong.
2.      Pindahkan isi gelas B kedalam gelas A. Gelas A saat ini sudah berisi minyak.
3.      Pindahkan air yang ada di gelas C kedalam gelas B.
Algoritma diatas berisi suatu langkah-langkah yang runtut dan bernilai logis sehingga hasilnya dapat menyelesaikan permasalahannya. Proses ini disebut dengan skuensial.

Pada langkah sekuensial, hasil akan dikatakan benar apabila langkah-langkah telah dilaksanakan dengan urut sesuai dengan algoritma yang telah dibuat. Apabila suatu urutan tersebut diganti maka hasilnya bisa menjadi salah.
contoh:
sebuah algoritma dan program perhitungan dengan pseudocode adalah sebagai berikut:
Algoritma runtut;
Deklarasi
A,B,C:integer
Deskripsi
    Mulai
A ß 5
B ß 10
A ß B+2
C ß A + B
Write(C)
Selesai

Algoritma tersebut juga dapat dituliskan dengan flowchart sebagai berikut:
Gambar 2. Flowchart Runtut


Program 10. Program runtut
Program runtut;
Uses wincrt;
Var a,b,c:integer;
Begin
A:=5;
B:=10;
A:=B+2;
C:=A+B;
Writeln (C);
End;

Program diatas akan mengasilkan output 22.  apabila langkah-langkah didalam program tersebut diubah, misalnya dengan menukar langkah ke-3 dan ke-4 dengan mengerjakan C:=A+B maka output yang akan dihasilkan berbeda dengan program yang pertama. Pada program yang kedua output yang dihasilkan adalah 15.

Contoh kasus yang lain adalah sebuah algoritma untuk melakukan konversi jarak dari meter ke inchi. Perhitungan yang dilakukan adalah 1 meter = 100 centimeter dan 1 inchi = 2.54 cm. algorima dan program yang dapat disusun adalah seperti dibawah ini.

Algoritma Konversi_MkeInc;
Deklarasi
M:real (input)
CM:raeln(output)
INCI:real (output)

Deskripsi
mulai
Read(M)
CM ß M * 100
INCI ßCM / 2.54
Write(CM)
Write(INCI)
selesai
Algoritma diatas dapat jga dituliskan dengan flowchart sebagai berikut:

Gamber 3. Flowchart konversi jarak meter ke inchi

Program 11. Program Konversi jarak meter ke inchi
Program konversi_MkeInc;
Uses wincrt;
Var
   M,CM,INCI : real;
Begin
Writeln(‘Program Konversi Meter Ke Inci’);
Write(‘Masukan Jarak dalam Meter =’);
Readln(M);
CM:=M*100;
INCI:=CM/2.54;
Writeln(‘Ukuran dalam CM =’,CM:5:2);
Writeln(‘Ukuran dala Inci =’,INCI:5:2);
End.

Hasil Output Program
Hasil Output Program:
Program Konversi Meter Ke Inci
Masukan Jarak dalam Meter =100
Ukuran dalam CM =10000.00
Ukuran dala Inci =3937.01


D.    Seleksi

Komputer memiliki kemampuan untuk melakukan pemilihan terhadap beberapa alternatife yang ada. Sebuah aksi atau statemen akan dilaksanakan apabila sebuah kondisi terpenuhi. Pemilihan ini tidak hanya berlaku untuk satu buah kondisi tetapi juga dapat beberapa kondisi.

Didalam persoalan sehari-hari, kasus-kasus pemilihan ini banyak sekali terjadi. Sebagai contoh untuk dapat menonton film dibioskop seseorang harus sudah berumur lebih dari 17 tahun. Kondisi ini akan memberikan aksi yang berbeda, jika seseorang berusia lebih dari 17 tahun maka boleh masuk tetapi apabila kondisi ini tidak terpenuhi maka seseorang tersebut tidak boleh masuk.

Kasus yang lain dapat dilihat pada sebuah permasalahan bagaimana membagi mahasiswa menjadi dua kelompok. Jika nim mahasiswa ganjil maka mahasiswa tersebut masuk kelompok A. Jika Nim mahasiswa genap maka mahasiswa tersebut masuk kelompok B.

Algoritma untuk menylesaikan masalah diatas dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1.      Baca Nim dari mahasiswa
2.      Cek nim mahasiswa  apakah nim mod 2 = 1
Jika benar maka mahasiswa tersebut masuk kelas A
Jika salah maka mahasiswa tersebut masuk kelas B
3.      Cetak Kelas
Pada langkah-langkah diatas, khususnya pada langkah ke 2 terdapat proses pengecekan dengan pemilihan kondisi yang berbeda maka akan memberikan statemen yang berbeda. Proses ini disebut dengan pemilihan (selection).



Algoritma diatas dapat dinyatakan dalam flowchart sebagai berikut:


Gambar 4. Flowchart Pemilihan Kelas

Untuk menyatakan sebuah pemilihan, didalam algritma pseudocode maupun pada program dapat nyatakan dengan perintah If .. Then .. Else dan perintah Case .. Of.

1.      Pernyataan If .. Then .. Else

Perintah if .. Then .. Else secara umum memiliki tiga struktur yang berbeda. Struktur ini menunjukan jumlah kondisi dan aksi yang berlaku. Pada tabel berikut akan menunjukan perbedaan struktur tersebut.

Tabel 12. Perintah If.. then.. else
Perintah
Keterangan
If Kondisi then
            Aksi1
Perintah ini digunakan untuk satu buah kondisi yang mempengaruhi suatu aksi.
If Kondisi then
            Aksi1
   Else
            Aksi2
Perintah ini digunakan untuk sebuah kondisi yang akan mempengaruhi dua buah aksi. Jika kondisi terpenuhi maka aksi pertama yang akan dijalankan tetapi sebaliknya jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka aksi kedua yang akan dijalankan,
If Kondisi1 then
           Aksi1
Else if kondisi2 then
           Aksi2
Else if kondisi3 then
           Aksi 3
else if kondisiN-1 then
          aksiN-1
else
          aksiN
Perintah ini digunakan untuk banyak kondisi yang mempengaruhi banyak aksi. Kondisi pertama dinyatakan dengan dengan if kondisi1 then aksi1. Untuk kondisi kedua sampai kondisi sebelum terakhir dinyatakan dengan else if kondisi then aksi. Sedangkan untuk kondisi terakhir cukup dinyatakan dengan else.

Pada tabel diatas, baik aksi1, aksi2 maupun aksi n dapat berupa pernyataan tunggal maupun pernyataan majemuk. Jika aksi hanya berupa satu pernyataan maka pernyataan tersebut dapat langsung dituliskan tetapi apabila aksi tersebut lebih dari satu pernyataan maka pernyataan-pernyataan tersebut dapat dituliskan dengan begin dan end pada awal dan akhir pernyataan.

Gambaran lebih detil mengenai ketiga jenis instrusi tersebut dapat dilihat pada kasus pengecekan sebuah bilangan apakah merupakan bilangan positif atau bukan.

Algoritma cek_positif;
Deklarasi
bilangan:integer (input)
Deskripsi
Read(bilangan)
If (bilangan > 0) then
                  Write(‘Positif’)
       End if
Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:
Gambar 5. Flowchart pengecekan bilangangan positif

Program 12. Pengecekan bilangan positif
Program Cek_positif;
Uses wincrt;
Var bilangan:integer;
Begin
   Writeln(‘Program Cek Bilangan Posistif’);
   Write(‘Masukan Sebuah Angka=’);
   Readln(bilangan);
   If bilangan > 0 then
       Writeln(‘Bilangan Positif’);
End.

Output dari program
Program Cek Bilangan Posistif
Masukan Sebuah Angka=9
Bilangan Positif

Pada program diatas, sebuah kondisi mempengaruhi sebuah aksi sehingga penulisannya menggunakan perintah if kondisi then aksi. Aksi pada program tersebut hanya terdiri dari satu pernyataan. Jika aksi tersebut terdiri dari dua buah pernyataan atau lebih dapat ditambahkan begin dan end pada awal dan akhir pernyataan-pernyataan tersebut. Didalam aksi tersebut dapat diberikan pernyataan tambahan dengan menyebutkan bilangan yang dimasukan sehingga menjadi dua buah pernyataan, maka program dapat ditulis sebagai berikut:

   If bilangan > 0 then
       Begin
         Writeln(‘Bilangan=’,bilangan);
         Writeln(‘Bilangan Positif’);
       End;

Algoritma tersebut dapat dikembangkan dengan sebuah kondisi yang mempengaruhi dua buah aksi. Algortima  dari pengembangan ini dapat lihat sebagai berikut ini.
Algoritma cek_positif2;
Deklarasi
bilangan:integer (input)
Deskripsi
      Mulai
Read(bilangan)
If (bilangan > 0) then
   Write(‘Positif’)
Else
  Write(‘Bukan Positif’)
       End if
      Selesai
Algoritma ini dapat digambarkan denganflowchart sebagai berikut:

Gambar 6. Flowchart Cek bilangan positif 2.
Program 13. Pengecekan bilangan positif 2.
Program Cek_positif2;
Uses wincrt;
Var bilangan:integer;
Begin
   Writeln(‘Program Cek Bilangan Posistif’);
   Write(‘Masukan Sebuah Angka=’);
   Readln(bilangan);
   If bilangan > 0 then
       Writeln(‘Bilangan Positif’)
    Else
       Writeln(‘Bukan Bilangan Positif’);
End.

Hasil Output Program
Program Cek Bilangan Posistif
Masukan Sebuah Angka=-5
Bukan Bilangan Positif

Sebuah kondisi mempengaruhi dua buah aksi sehingga dalam penulisannya dapat digunakan perintah if kondisi then aksi1 else aksi2. Jika kondisi tersebut (bilangan > 0) terpenuhi maka aksi pertama yang akan dijalankan yaitu menuliskan Positif. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka aksi yang kedua yang akan dijalankan yaitu menuliskan Bukan Positif. Pada pernyataan aksi yang pertama tidak diberikan tanda titik koma (;) sebagai akhir perintah karena masih terdapat perintah berikutnya didalam pernyataan if. Pada setiap aksi tersebut juga dapat ditambahkan satu pernyataan yang menampilkan bilangan yang dimasukan sehingga setiap aksi terdiri dari dua pernyataan.

   If bilangan > 0 then
       Begin
            Writeln(‘Bilangan=’,bilangan);
Writeln(‘Bilangan Positif’);
       End
   Else
       Begin
      Writeln(‘Bilangan=’,bilangan);
Writeln(‘Bukan Bilangan Positif’);
             End;
         End if

Pengembangan berikutnya dapat dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai beberapa kondisi yang mempengaruhi beberapa aksi. Pada algoritma berikut adalah gambaran untuk beberapa kondisi tersebut.
Algoritma cek_positif3;
Deklarasi
bilangan:integer (input)
Deskripsi
Mulai
Read(bilangan)
If (bilangan > 0) then
  Write(‘Positif’)
Else if (bilangan < 0) then
  Write(‘Negatif’)
Else
   Write(‘Nol’)
End if
Selesai




Algortima ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:

Gambar 7. Flowchart cek bilangan positif 3.



Program 14. Pengecekan bilangan positif 3.
Program Cek_Positif3;
Uses wincrt;
Var bilangan:integer;
Begin
   Writeln(‘Program Cek Bilangan Posistif’);
   Write(‘Masukan Sebuah Angka=’);
   Readln(bilangan);
   If bilangan > 0 then
       Writeln(‘Bilangan Positif’)
   Else if bilangan < 0 then
       Writeln(‘Bukan Bilangan Positif’)
   Else
       Writeln(‘Bilangan Nol’);
End.

Hasil output program
Program Cek Bilangan Posistif
Masukan Sebuah Angka=0
Bilangan Nol

Jika kondisi pertama terpenuhi yaitu bilangan > 0 maka aksi pertama akan dilaksanakan yaitu menuliskan positif. Apabila kondisi pertama ini tidak terpenuhi maka akan dilakukan pengecekan pada kondisi kedua yaitu bilangan < 0. Jika kondisi kedua ini terpenuhi maka aksi kedua akan dilaksanakan yaitu menuliskan Negatif. Jika kondisi pertama tidak terpenuhi dan kondisi kedua tidak terpenuhi maka aksi ketiga yang akan dilaksanakan yaitu menuliskan nol. Pada akhir pernyataan aksi pertama dan kedua tidak diakhiri denan titik koma (;) karena masih ada pernyataan lain didalam statemen if yaitu pernyataan else pada bagian terakhir. Pada aksi pertama dan aksi kedua juga dapat ditambahkan pernyataan untuk menamplkan bialangan yang dimasukkan sehingga aksi tersebut tidak hanya terdiri dari pernyataan seperti pembahasan sebelumnya.

Kasus yang lain dapat dilihat pada algoritma untuk melakukan konversi nilai dari angka menjadi huruf. Ketentuan untuk melakukan konversi tersebut adalah sebagai berikut:
    Nilai 0 – 30 = ‘E’
    Nilai 31 – 50 = ‘D’
    Nilai 51 – 70 = ‘C’
    Nilai 71 – 85 = ‘B’
    Nilai 86 – 100 = ‘A’

Dari ketentuan tersebut dapat disusun sebuah algoritma sebagai berikt:
Algoritma Konversi_Nilai;
Deklarasi
Nilai_angka: 0 .. 100 (input)
Nilai_huruf:char (output)
Deskripsi
Mulai
Read(Nilai_anka)
If (nilai_angka > 85) then
  Nilai_huruf ß ’A’
Else if (nilai_angka > 70) then
  Nilai_huruf ß ’B’
Else if (nilai_angka > 50) then
  Nilai_huruf ß ’C’
Else if (nilai_angka > 30) then
  Nilai_huruf ß ’D’
Else
   Nilai_huruf ß ’E’
End if
Write(nilai_huruf)
      Selesai

Algortima ini dapat digambarkan denganflowchart sebagai berikut:


Gambar 8. Flowchart konversi nilai ke huruf

Program 15. Konversi Nilai1
Program konversi_nilai1;
Uses wincrt;
Var
   Nilai_angka:0..100;
   Nilai_huruf:char;
Begin
   Writeln('Program Konversi Nilai');
   Write('Masukan Nilai Angka =');
   Readln(nilai_angka);
if nilai_angka > 85 then
   nilai_huruf:='A'
else if nilai_angka > 60 then
   nilai_huruf:='B'
else if nilai_angka > 50 then
   nilai_huruf:='C'
else if nilai_angka > 30 then
   nilai_huruf:='D'
else
   nilai_huruf:='E';

writeln('Nilai Huruf=',nilai_huruf);

end.

Hasil Output program:
Program Konversi Nilai
Masukan Nilai Angka =70
Nilai Huruf=B


2.      Pernyataan Case .. Of

Pernyataan case .. of merupakan perluasan dari pernyataan if. Untuk pemilihan yang terdiri dari banyak kondisi, struktur if melakukan pengecekan terhadap setiap kondisi, bila satu kondisi tidak terpenuhi baru akan dilanjutkan pada kondisi yang berikutnya. Berbeda dengan pernyataan if, penyataan case melakukan pengecekan dengan pemilihan kondisi yang sesuai parameter yang ada.

Pernyataan case dapat dituliskan dengan struktur sebagai berikut:

Case parameter of
   Pilihan1 : aksi1
   Pilihan2 : aksi2
   …
   pilihanN : aksiN
end;

Pernyataan diatas juga dapat dutuliskan dengan strukur yang lain yaitu:

Case parameter of
   Pilihan1 : aksi1
   Pilihan2 : aksi2
   …
   PilihanN-1 : aksiN-1
   else
       aksiN
end;

Struktur case akan memberikan nilai yang sama dengan struktur if. Perbedaan hanya terdapat pada cara penulisannya saja. Pernyataan case ini digunakan dalam algoritma pseudocode dan program sedangkan untuk algoritma flowchart digunakan lambang symbol percabangan/kondisi.

Ekspresi yang digunakan pada pernyataan case hanya berupa tipe data ordinal dengan batasan nilai antara -32768 – 32767. tipe data yang lain seperti longint, string, atau word tidak dapat digunakan.

Kasus seleksi pada pembahasan sebelumnya yaitu pengecekan nilai dengan pernyataan if dapat juga dilakukan dengan pernyataan case sebagai berikut:
Algoritma Konversi_Nilai;
Deklarasi
Nilai_angka: 0 .. 100 (input)
Nilai_huruf:char (output)

Deskripsi
Mulai
Read(Nilai_angka)
Case nilai_angka of
  86 .. 100: nilai_huruf ß ’A’;
  71 .. 85 : nilai_huruf ß ’B’;
  51 .. 70 : nilai_huruf ß ’C’;
  31 .. 50 : nilai_huruf ß ’D’
  0 .. 30 : nilai_huruf  ß ’E’
end;
Write(nilai_huruf)
Selesai

Program 16. Konversi Nilai2
Program koversi_nilai2;
Uses wincrt;
Var
   Nilai_angka:0..100;
   Nilai_huruf:char;
Begin
   Writeln(‘Program Konversi Nilai’);
   Write(‘Masukan Nilai Angka =’);
   Readln(nilai_angka);

   Case nilai_angka of
  86 .. 100: nilai_huruf:=’A’;
  71 .. 85 : nilai_huruf:=’B’;
  51 .. 70 : nilai_huruf:=’C’;
    31 .. 50 : nilai_huruf:=’D’;
     0 .. 30 : nilai_huruf :=’E’;
     end;

    writeln(‘Nilai Huruf=’,nilai_huruf);
   end.

Hasil Output program:
Program Konversi Nilai
Masukan Nilai Angka =60
Nilai Huruf=C

E.     Perulangan

Perulangan adalah suatu proses terhadap hal yang sama yang diulang beberapa kali sampai suatu kondisi atau batas tertentu terpenuhi. Untuk memberikan gambaran mengenai perulangan dapat disimak pada kasus berikut ini.
Terdapat sebuah permasalahan bagaimana mencetak bilangan bulat dari 1 sampai dengan 10. Hasil output yang diinginkan adalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10.
Langkah-langkah untuk menyelesakan permasalahan diatas dapat dilakuakan sebagai berikut:
1.      Menentukan nilai awal yaitu 1.
2.      Cetakan nilai tersebut sebanyak 10 kali.
3.      Setiap langkah mencetak lakukan penambahan 1 (increament 1).

Algoritma diatas mengandung langkah-langkah yang diulang. Langkah-langkah ini disebut dengan perulangan. Istilah lain dari perulangan adalah looping atau repetition. Didalam bahasa pemrograman pascal perulangan dapat dituliskan  dengan tiga pernyataan yang berbeda. Pernyataan tersebut adalah:
-          for to do
-          while do
-          repeat until
Penjelasan mengenai ketiga pernyataan diatas akan dibahas pada bagian-bagian tersendiri.

1.      Struktur For

Struktur perulangan for merupakan struktur untuk meuliskan perulangkan selama dalam kondisi tertentu. Nilai perulangan sudah ditentukan dengan sebuah nilai awal dan nilai akhir. Nilai awal merupakan nilai yang diberikan untuk memulai suatu instruksi yang berada didalam blok tersebut. Perulangan terhadap pernyataan atau instrukti tersebut akan berhenti jika kondisi akhir yang telah disebut terpenuhi.

Terdapat dua buah jenis pernyataan dengan menggunakan struktur for yaitu pernyataan naik dan pernyataan turun. Perulangan naik dinyatakan dengan pernyataan For…To…do, sedangkan untuk perulangan turun dapat dinyatakan dengan pernyataan For…downto …do.

Pernyataan For…to…do dapat dituliskan dengan sintaks For counter=nilai_awal To nilai_akhir Do aksi/blok aksi dimana nilai_akhir lebih besar dari nilai awal. Untuk pernyataan yang sebaliknya dapat digunakan perintah For..Downto..Do dengan sintaks For counter=nilai_awal downto nilai_akhir do aksi/blok aksi dimana nilai_awal lebih besar dari nilai akhir.

Algoritma berikut adalah tentang mencetak bilangan bulat dari 1 sampai dengan 10 dengan menggunakan perulangan For…To…Do.

Algoritma PerulanganFor1;
Deklarasi
      I:integer
Deskripsi
      mulai
For I ß 1 to 10 do
   Write(i)
End for
Selesai

Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:


Gambar 9. Flowchart perulangan for to do

Program 17. Perulangan dengan for 1
Program perulananFor1;
Uses wincrt;
Var
       I:integer;
Begin
   Writeln(‘Program Perulangan dengan For’);
   For i:=1 to 10 do
     Writeln(i);
End.
Hasil output program
Program Perulangan dengan For
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pada kasus diatas, perintah writeln(i) diulang sebanyak sepuluh kali, mulai dari i=1 sampai i=10. Perulangan ini secara otomatis  akan menambahkan counter dengan 1. Sehinggga i akan mengalami increament 1 sampai dengan i =10.

Apabila kasus tersebut dibalik yaitu mengulang penulisan i tetapi i dimulai dari 10 sampa ke 1 maka dapat dilakukan dengan perintah for…downto…do.
Algoritma PerulanganFor2;
Deklarasi
      I:integer
Deskripsi
   Mulai
   For I ß 10 downto 1 do
   Write(i)
   Selesai
Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchart dengan sebabagai berikut:


Gambar 10. Flowchart for downto do

Program 18. Perulangan denga for 2
Program perulananFor;
Uses wincrt;
Var
       I:integer;
Begin
   Writeln(‘Program Perulangan dengan For’);
   For i:=10 downto 1 do
   Writeln(i);
End.

Hasil output program:
Program Perulangan dengan For
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Program diatas akan mencetak nilai i mulai dari 10 sampai dengan 1. I sebagai conter dari perulangan maka secara otomatis akan mengalami pengurangan 1 (decreament) pada setiap langkah perulangan. Pernyataan aksi yang ada pada program diatas hanya terdiri dari satu statemen. Apabila aksi tersebut terdiri dari beberapa statemen, maka penulisannya didalam program pascal harus ditambah dengan penyaaan begin sebelum aksi dan pernyataan end; setelah pernyataan aksi.

Contoh yang lain dapat dilihat pada kasus menghitung nilai rata-rata dari beberapa data yang dimasukan. Perulangan akan dilakukan untuk membaca data dan menjumlahkannya dalam variabel tertentu. Hasil penjumlahan dari data yang dimasukan tersebut akan dihitung rata-ratanya dengan pembagian.

Algoritma rerata1;
Deklarasi
      I,n,jumlah,x:integer
     Rerata:real;
Deskripsi
  Mulai
   Read (n)
   Jumlahß0
   For I ß 1 to n do
      Read(x)
      JumlahßJumlah+x
   End for
   Rerata ßjumlah/n
   Write(rerata)
   Selesai

Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchet sebagai berikut:


Program 11. Flowchart menghitung rata-rata 1

Program 19. Menghitung rata-rata 1
Program rerata1;
Uses wincrt;
Var
   i,n,x,jumlah:integer;
   Rerata:real;
Begin
Writeln(‘Program Mengitung Rata-rata’);
Write(‘Masukan Jumlah Data=’);
Readln(n);
Jumlah:=0;
For i:=1 to n do
  Begin
   Write(‘Masukan Data ke-‘,I,’=’);
   Readln(x);
   Jumlah:=jumlah+x;
  End;
Rerata:=jumlah/n;
Writeln(‘Rata-rata=’,rerata:5:2);
End.

Hasil Output program
Program Mengitung Rata-rata
Masukan Jumlah Data=5
Masukan Data ke-1=6
Masukan Data ke-2=5
Masukan Data ke-3=8
Masukan Data ke-4=7
Masukan Data ke-5=7
Rata-rata= 6.60

Pada perulangan diatas, aksi tidak hanya terdiri satu satu pernyataan tetapi lebih dari satu pernyataan. Setelah pernyataan for maka perlu ditambahkan pernyataan begin dan pernyataan end setelah akhir blok aksi ditambahkan pernyataan end.


2.      While do

Struktur while do merupakan perintah untuk melakukan perulangan selama sebuah kondisi terpenuhi atau bernilai benar. Jika kondisi yang disyaratkan sudah tidak terpenuhi maka perulangan akan berhenti. Proses pengecekan terhadap kondisi akan dilakukan terlbi dahulu sebelum pernyataan yang akan diulang. Oleh karena itu perlu adanya sebuah proses yang dapat mengontrol kondisi agar berhenti.

Perulangan dengan while do lebih fleksibel karena program tidak ditentukan berapa kali perulangan terjadi. Dari kasus mencetak bilangan dari 1 sampai 10 pada bagian sebelumnya dapat juga diselesaikan dengan struktur while do.

Algoritma PerulanganWhile;
Deklarasi
      i:integer
Deskripsi
  Mulai
   I ß1
   While (I <= 10 ) do
       Write(i)
       I ß i+1
    Endwhile
    Selesai

Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:

Gambar 12. Flowchart perulangan while

Program 20. Perulangan dengan while
Program perulanganwhile;
Uses wincrt;
Var
   I:integer;
Begin
writeln('Program Perulangan dengan While');
I:=1;
While i<= 10 do
  Begin
    Writeln(i);
    I:=i+1;
 End;
End.

Hasil Output program
Program Perulangan dengan While
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pada program tersebut, aksi setelah while do dinyatakan dalam beberapa pernyataan sehingga dituliskan dalam pernyataan begin dan end. Pada program diatas perulangan sudah diketahui yaitu sebanyak sepuluh kali. Dalam kasus yang lain struktur while do dapat digunakan untuk perulangan yang belum diketahui jumlah perulangannya. Sebagai contoh program untuk menghitung data yang dimasukan dan rata-ratanya sampai data yang dimasukan berupa angka nol (0).

Algoritma rerata2;
Deklarasi
      i,n,jumlah,x:integer
     Rerata:real;
Deskripsi
   Mulai
   Read (x)
   n ß 0
   Jumlahß0
   While (x <>0) do
            Nß n+1
            JumlahßJumlah+x
            Read(x)
   Endwhile
   Rerata ßjumlah/n
   Write(n)
   Write(jumlah)
   Write(rerata)
   Selesai
Algoritma  ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:

Gambar 13. Flowchart menghitung rata-rata dengan while
Program 21. Menghitung rata-rata dengan while
Program rerata2.
uses wincrt;
var
   i,n,x,jumlah:integer;
   rerata:real;
begin
writeln('Masukan nilai-nila (0 untuk berhenti)=');
readln(x);
n:=0;
while x<>0 do
begin
  n:=n+1;
  jumlah:=jumlah+x;
  read(x);
end;
rerata:=jumlah/n;
writeln(‘Jumlah=’,jumlah);
writeln(‘Rerata=’,rerata);
end.

Hasil output program:
Masukan nilai-nila (0 untuk berhenti)=
6
7
9
7
8
9
0
Jumlah=46
Rerata= 7.66666666666667E+0000

Pada program diatas data yang diinputkan berupa angka nol (0) tidak akan dihitung karena sebagai stoping point (tanda untuk berhenti perulangan).

3.      Repeat Until

Struktur Repeat..until merupakan sebuah perintah untuk melakukan perualangan terhadap suatu pernyataan atau blok pernyataan sampai suatu kondisi terpenuhi. Jika kondisi sudah terpenuhi maka pernyataan tidak akan diulang lagi. Pemeriksaan kondisi ada pada bagian setelah pernyataan yang diulang. Struktur ini juga perlu adanya suatu proses yang dapat mengontrol program agar program dapat berhenti.

Perulangan dengan repeat until juga lebih fleksibel bila dibandingkan dengan struktur for to do. Perulangan ini juga tidak ditentukan berapa kali suatu pernyataan harus dilakukan. Dari kasus mencetak bilangan dari 1 sampai 10 dapat dilihat pada algoritma dan program dibawah ini.

Algoritma PerulanganRepeat;
Deklarasi
      i:integer

Deskripsi
  Mulai
   i ß1
   Repeat
       Write(i)
       I ß i+1
     Until (I > 10 )
   selesai

Algoritma ini dapat digambaran dengan flowchart sebagai berikut:

Gambar 14. Flowchart perulangan dengan repeat

Program 22. Perulangan dengan repeat
program perulanganRepeat;
uses wincrt;
var
   i:integer;
begin
writeln('Program Perulangan dengan Repeat');
i:=1;
repeat
  writeln(i);
  i:=i+1;
until i>10
end.

Hasil output program
Program Perulangan dengan Repeat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pada program diatas, aksi dengan pernyataan-pernyataan yang ada setelah pernyataan while akan selalu diulang sampai pada kondisi yang dinyatakan dengan klausa until terpenuhi. Pernyataan-pernyatan yang ada pada blok aksi tidak digunakan begin dan end walupun pada blok tersebut terdapat beberapa pernyataan. Pada kasus yang lain yaitu pada algoritma menghitung rata-rata dari sejumlah bilangan yang dimasukan sampai bilangan yang dimasukan berupa angka nol.

Algoritma rerata2;
Deklarasi
      i,n,jumlah,x:integer
     Rerata:real;
Deskripsi
   Mulai
   n ß 0
   Jumlahß0
   Repeat
            Nß n+1
            Read(x)
           JumlahßJumlah+x
    Until x=0
   Rerata ßjumlah/(n-1)
   Write(n)
   Write(jumlah)
   Write(rerata)
    Selesai

Algoritma ini dapat digambarkan dengan flowchart sebagai berikut:

Gambar 15. Flowchart menghitung rata-rata dengan repeat

Program 23. Menghitung rata-rata dengan repeat
Program rerata3;
Uses wincrt;
var
   i,n,jumlah,x:integer;
   rerata:real;
begin
writeln('Masukan data (0 untuk berhenti)=');
n:=0;
jumlah:=0;
repeat
  n:=n+1;
  readln(x);
  jumlah:=jumlah+x;
until x=0;
rerata:=jumlah/(n-1);
writeln('Jumlah=',jumlah);
writeln('Rerata=',rerata);
end.

Hasil output program:
Masukan data (0 untuk berhenti)=
5
9
8
7
8
6
0
Jumlah=43
Rerata= 7.16666666666667E+0000



Latihan
1.      Buatlah program untuk mencetak bilangan ganjil dai 1 sampai dengan 100.

Pembahasan
Analisa:
Mencetak bilangan ganjil dari 1 sampai dengan 100 dapat dilakukan dengan perualngan. Untuk menentukan apakah sebuah bilangan tersebut bilagan ganjil atau bukan dapat dilakukan dengan modulasi 2 pada bilangan dari 1 sampai dengan 100. apabila hasil modulasi adalah 0 maka bilangan tersebut genap tetapi apabila hasil modulasi 1 maka bilangan tersebut ganjil dan siap dicetak.


Algoritma cetak bilangan ganjil
Deklarasi
i:integer
Deskripsi
      Mulai
      For i:=1 to 100 do
         If  i mod 2 = 1 then
                  Write(i)
         End if
      End for
      Selesai

Program mencetak bilangan ganjil.
Program Cetak_bil_ganjil;
Uses wincrt;
Var
   i:integer;
Begin
   For i:=1 to 100 do
     If i mod 2 = 1 then
         Write(i,’  ‘);
End;

2.      Buatlah program untuk menghitung jumlah factorial dari nilai n yan dimasukan. Nilai factorial didefinisikan sebagai berikut:
3! = 1 X 2 X 3 = 6
4! = 1 X 2 X 3 X 4 = 24
n! = 1 X 2 X 3 X …. X n

Pembahasan
Analisa:
Nilai faktorial dari n adalah nilai perkalian mulai dari 1 sampai dengan n. perkalian ini dapat dilakukan dengan perulangan. Setiap langkah dalam perulangan akan dikalikan dengan I oleh karena itu nilai awal untuk hasilnya adalah 1.

Algoritma factorial
Deklarasi
      i,n:integer
      Fak:longint;
 Deskripsi
      Mulai
Fakß1
      Realn(n)
      For iß1 to n do
         Fakßfak * i
      End for
      Write(fak)
      Selesai

Algoritma dengan flowchart


Program menghitung nilai faktorial
Program factorial;
Uses wincrt;
Var
   i,n:integer;
        fak:longint;
Begin
writeln('Program menghitung nilai faktorial');
write('Masukan jumlah data =');
readln(n);
fak:=1;
for i:=1 to n do
        fak:=fak*i;
writeln(n,' Faktorial =',fak);
end.



1 komentar:

Komentar Anda Mempacu Untuk Yang Lebih Baik Dan Jangan Menghina

 

Copyright © 2012 Boodie Blog Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger